KABARDAERAH.OR.ID, KUDUS || Pelayanan di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus kembali menuai kritik tajam setelah seorang pasien rujukan, Kasmudi, harus menunggu hingga 17 jam di Instalasi Gawat Darurat (IGD) tanpa kejelasan pemindahan ke ruang rawat inap. Kejadian ini semakin memperkuat keluhan masyarakat bahwa kualitas pelayanan rumah sakit tersebut kian menurun.
Kasmudi, pasien asal Kecamatan Mejobo, sebelumnya dirawat selama dua hari di Puskesmas Brayung sebelum dirujuk ke RSUD Loekmono Hadi pada Selasa, 2 November 2025 pukul 23.00 WIB. Namun hingga keesokan harinya, Rabu, 3 November 2025 pukul 15.00 WIB, ia tetap berada di IGD meskipun Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) menunjukkan adanya kamar kosong yang sesuai.
Putra pasien, Sofyan, yang mendampingi ayahnya, menyampaikan kekecewaannya.
“Dari jam 23.00 WIB di IGD sampai sekarang belum dipindah ke kamar. Tadi pagi di SPGDT terlihat masih ada ruang kosong sesuai kelas,” ujarnya.
Keluhan tersebut mendapat pengakuan dari Sri Endang, Kepala Tim IGD yang bertugas saat itu. Ia menyebut bahwa permasalahan serupa sudah sering terjadi.
“Sudah banyak sekali komplain karena aplikasinya tidak sinkron, Pak. Dan saya yang menjadi tumpuan komplain keluarga pasien,” ungkapnya.
Pengakuan ini menimbulkan pertanyaan besar terkait profesionalisme dan manajemen internal RSUD Loekmono Hadi. Ketidaksinkronan aplikasi yang berulang kali dijadikan alasan dinilai sebagai indikasi kegagalan sistemik yang dibiarkan berlarut-larut, sehingga memperlambat proses pelayanan dan merugikan pasien.
Humas RSUD dr. Loekmono Hadi, Mufid, yang baru menjabat sejak Agustus 2025, juga membenarkan adanya sejumlah masalah manajemen.
“Saya baru menjadi Humas sejak Agustus kemarin. Banyak hal yang terjadi sebelum saya masuk, jadi semuanya masih dalam tahap evaluasi,” jelasnya.
Namun, pernyataan tersebut dinilai kurang memuaskan publik. Di tengah kondisi pasien yang menunggu berjam-jam, alasan “tahap evaluasi” dianggap tidak cukup menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki pelayanan.
Kasus ini semakin memperkuat keluhan warga Kudus bahwa pelayanan RSUD Loekmono Hadi mengalami kemunduran. Ketidakselarasan antara data sistem dan kondisi lapangan menjadi puncak persoalan yang memperlihatkan lemahnya koordinasi internal rumah sakit.
Masyarakat menuntut agar RSUD Loekmono Hadi segera melakukan langkah perbaikan nyata, bukan sekadar wacana. Rumah sakit yang menjadi tumpuan masyarakat menengah ke bawah ini diharapkan dapat kembali memberikan pelayanan cepat, transparan, dan manusiawi, sehingga kasus serupa tidak terulang di kemudian hari.
( Red )
Eksplorasi konten lain dari Kabar Daerah
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.













